Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali menggelar program Pajak Bertutur untuk menanamkan kesadaran pajak sejak dini kepada generasi muda.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali menggelar program Pajak Bertutur untuk menanamkan kesadaran pajak sejak dini kepada generasi muda.
Tahun ini, kegiatan tersebut diikuti 26.114 siswa dan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan di seluruh Indonesia.
Pajak Bertutur 2026 digelar secara serentak pada Kamis (3/9/2026) oleh 34 Kantor Wilayah DJP, 352 Kantor Pelayanan Pajak (KPP), serta 204 Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP).
Adapun peserta terdiri dari 60 SD atau sederajat, 198 SMP atau sederajat, 247 SMA atau sederajat, serta 24 perguruan tinggi.
Pada acara puncak yang berlangsung di Aula Chakti Budi Bhakti, Kantor Pusat DJP, hadir sekitar 270 siswa dan 30 guru pendamping dari sembilan SMP di Provinsi DKI Jakarta dan satu Sekolah Rakyat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto, jajaran Kementerian Keuangan dan DJP, serta perwakilan pemerintah daerah.
Tahun ini, Pajak Bertutur mengusung tema “Pajak Kita: Energi Generasi Juara” dengan tagline “Sehari Mengenal, Selamanya Bangga”.
DJP menyebut kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menanamkan kesadaran pajak sejak dini melalui dunia pendidikan.
Program ini sekaligus mendukung Program Inklusi Kesadaran Pajak melalui kolaborasi antara DJP, institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam sambutannya, Bimo mengajak generasi muda melihat pajak tidak semata-mata sebagai kewajiban, tetapi sebagai sumber daya bersama yang membuka kesempatan bagi masyarakat.
Menurut dia, penerimaan pajak turut menopang berbagai kebutuhan pembangunan, mulai dari pendidikan, energi, infrastruktur, hingga layanan publik yang menjadi fondasi bagi generasi muda untuk tumbuh dan berprestasi.
“Pajak adalah energi yang dikumpulkan bersama untuk menggerakkan roda kebangsaan Indonesia dan membuka lebih banyak kesempatan. Pajak membuka jalan bagi pendidikan, energi, dan pembangunan infrastruktur,” ujar Bimo dalam keterangannya, Jumat (4/9).
Ia menambahkan, generasi muda saat ini menikmati berbagai manfaat pembangunan yang antara lain dibiayai dari pajak yang dihimpun generasi sebelumnya.
Pada waktunya, generasi tersebut diharapkan meneruskan estafet kontribusi untuk membangun masa depan Indonesia.
Sementara itu, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Inge Diana Rismawanti mengatakan, membangun kesadaran pajak sejak dini merupakan investasi jangka panjang.
Ia menilai generasi muda perlu memahami bukan hanya hak dan kewajiban perpajakan, tetapi juga makna kontribusi masyarakat terhadap keberlanjutan pembangunan.
“Kesadaran pajak tidak dibangun ketika seseorang pertama kali menjadi wajib pajak. Nilai itu perlu dikenalkan sejak dini agar anak-anak memahami bahwa membangun Indonesia membutuhkan kontribusi dan gotong royong kita bersama,” kata Inge.
Menariknya, pelaksanaan Pajak Bertutur tahun ini juga menjangkau peserta didik di wilayah yang terdampak bencana.
Sebanyak 671 peserta didik dari wilayah kerja tujuh KPP dan tujuh KP2KP tetap mengikuti kegiatan, baik secara daring maupun melalui fasilitas alternatif yang tersedia.
Sejumlah peserta bahkan mengikuti kegiatan dari tenda dan fasilitas umum, termasuk masjid, selama proses pemulihan di daerah masing-masing.
Melalui Pajak Bertutur 2026, DJP berharap pemahaman mengenai pajak yang diberikan sejak dini dapat berkembang menjadi kesadaran untuk berkontribusi pada masa depan.
Baca juga : Purbaya Buka Opsi Ubah Batas Omzet UMKM Bebas PPh


